BOGOR--MI: Populasi kepiting bakau di Indonesia saat ini terus menurun. Berdasarkan data yang ada produksi kepiting dari Sumatra Utara, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Jawa Timur, Nusa Tenggara Timur dan Riau hanya mencapai 67,6 persen dari total produksi kepiting bakau Indonesia.
Rata-rata pertumbuhan produksinya melambat dan cenderung menurun. "Penurunan populasi ini diakibatkan oleh degradasi ekosistem mangrove (bakau) dan eksploitasi berlebihan yang banyak terjadi di perairan Indonesia," ungkap Mahasiswa S3 Program Studi Ilmu Kelautan Institut pertanian Bogor (IPB), Laura Siahainenia dalam sidang terbukanya yang berjudul Aspek Bioekologi Kepiting Bakau (Scylla spp<.i>) di Ekosistem Mangrove Kabupaten Subang Jawa Barat.
Padahal, menurutnya, saat ini ekspor kepiting bakau Indonesia meningkat. Tahun 2000 ekspor mencapai 12.381 ton dan meningkat menjadi 22.726 ton tahun 2007. "Sayangnya, kenaikan ekspor ini tak dibarengi dengan peningkatan populasinya," katanya.
Peningkatan populasi kepiting bakau perlu dilakukan untuk memenuhi peningkatan nilai ekspor yang dapat meningkatkan perekonomian Indonesia. Dia menyebutkan peningkatan dapat dilakukan melalui upaya konservasi bagi populasi yang sudah tidak stabil dan melakukan usaha pembenihan melalui teknologi ablasi (pemotongan batang mata) tangkai mata kepiting bakau.
Staf Pengajar di Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Pattimura, Ambon ini menggunakan metode sampling line plot transect untuk mengamati petumbuhan populasi kepiting bakau. "Penentuan karakter dewasa kelamin kepiting bakau dilakukan berdasarkan perubahan morfologis dan anatomis tubuh kepiting bakau jenis S. Serrata jantan dan betina, kemudian dianalisa dengan metode deskriptif, " kata Laura dalam disertasinya.
Sedangkan pengamatan perkembangan gonad kepiting bakau dilakukannya dengan cara mengamati perubahan warna dan struktur morfologis gonad, morfologis tubuh serta
perubahan pada struktur jaringan sel telur dari 30 ekor betina.
"Disamping perubahan warna dan struktur morfologis testis dari 30 ekor kepiting bakau jantan Scylla Serrata dewasa.
Kemudian data karakter perkembangan embrio kepiting bakau dikumpulkan, diamati setiap hari selama proses inkubasi," tambahnya.
Keefektivitasan penggunakan ablasi alami dilihat dari evaluasi perkembangan gonad, embrio dan larva yang dihasilkan oleh induk kepiting bakau. Hasil penelitian Laura menunjukkan salinitas, suhu, dan kecerahan perairan yang relatif stabil sangat mempengaruhi tingginya intensitas pemijahan kepiting bakau karena sejak awal pembuahan sel telur. Kepiting bakau sudah membutuhkan
perairan yang bersalinitas tinggi.
Busby SEO Test
Busby SEO Test
一昔前の全身脱毛は…。
8 tahun yang lalu
Tutorial komen in English dan Tutorial komen in Indonesia